Search
Joovs Videos
Search:
Kisah Anton Medan, mantan Preman Besar yng mendapat Hidayah Cahaya Islam

Title: Kisah Anton Medan, mantan Preman Besar yng mendapat Hidayah Cahaya Islam
Category: People
Description: Anton dapat hidayah saat bertemu Zainuddin MZ.
"Dulu toko mas mana yang tak saya rampok?"

VIVAnews -- Dulu, sosok Anton Medan lekat dengan kriminalitas. Pria kelahiran Tebing tinggi itu adalah mantan perampok dan bandar judi. Namun, ia kini telah insyaf. Setelah memeluk Agama Islam pada 1992, belakangan ia justru kerap berceramah sebagai da'i.

Di bulan Ramadan ini, kegiatan Anton Medan tak kalah padat dengan para penceramah lainnya. Tadi malam misalnya, ia mengisi pengajian di Lembaga Pemasyarakatan Paledang, Bogor.

Pria bernama asli Tan Hok Liang itu tak menemui kesulitan ketika masuk LP Paledang."Saya Anton Medan, bersama tamu yang saya bawa, wartawan, saya mau mengisi ceramah disini," ujar Anton Medan kepada petuga LP semalam.
Sapaannya melalui lubang di pintu gerbang Lapas disambut baik para petugas, yang langsung membukakan pintu untuknya.

Mengenakan pakaian muslim ala China, warna hijau, Anton Medan, didampingi istrinya, menyalami sekitar 1.050 tahanan dan napi LP Paledang yang menyambutnya antusias.

Memulai ceramahnya sekitar pukul 20.00 WIB, Anton Medan menyapa para binaan Lapas dan mengingatkan untuk menjaga tarawih dan tadaruz di bulan Ramadan.

"Mungkin di sini, yang muda-muda tidak kenal saya. Saya asli warga binaan, saya sudah merasakan dipukuli dan pahitnya dalam penjara, saya bisa taubat, kalian pun bisa seperti saya, bisa tidak? Alhamdulillah," ujar Anton Medan, saat pendengarnya meneriakkan kata 'Bisa', Selasa malam 9 Agustus 2011.

Pemilik Masjid Jami' Tan Hok Liang itu menceritakan, ia mendapat hidayah saat bertemu KH Zainuddin MZ. "Saya dulu penjahat, bajingan, dan semua ada di saya. Toko mas mana yang tidak saya rampok waktu itu," kata Anton Medan. "Saya sudah merasakan tinggal di dalam penjara total 18 tahun 7 bulan, keluar masuk penjara dengan kasus yang berbeda, disini saya mau semua napi bisa bertaubat dan tidak mengulangi kesalahannya lagi," ujar pria pengagum Buya Hamka ini.

Selama satu jam, Anton memberikan tausyiah di dalam LP Paledang. Ia mengaku puas berbagi pengalaman bersama para napi, sehingga amplop berisi uang yang diberikan kepala Lapas atau kepala Rutan kerap ia tolak. "Saya ikhlas dalam memberikan ceramah, karena saya merasakan kepuasan tersendiri berada di depan mereka (napi)," kata Anton. (umi)
--------------
Sepenggal kisah Anton Medan.
TAN HOK LIANG adalah nama asli Anton Medan. Ia lahir di Tebing Tinggi, Sumatera
Utara 1 Oktober 1957. Di usia 8 tahun, ia harus berhenti sekolah karena permintaan ibunya untuk membantu berjualan kue. Ia hanya mengenyam bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) selama 7 bulan, dan belum bisa membaca dan menulis.

Menginjak usia 12 tahun, Kok Lien (panggilan kecilnya) menjadi anak terminal
Tebing Tinggi, menjual jasa mencarikan penumpang bagi sopir. Kok Lien dikenal
rajin. Banyak sopir terminal senang dan memanggilnya Cina Tongkol (Cintong). Tapi tak semua sopir menghargai kerja kerasnya. Suatu ketika ada seorang sopir
tidak memberinya upah. Kok Lien protes.

Tapi sopir itu malah marah. Terjadilah perang mulut. Tak sabar, Kok Lien
mengambil sebuah balok kayu dan menghantam sekuat tenaga. Sopir itu pun
tersungkur. Kok Lien lari. Tapi polisi menangkapnya.

TAHUN 1970 Kok Lien merantau ke Terminal Medan. Usianya baru 13 tahun. Di
Medan ia bekerja sebagai pencuci bus. Seperti di terminal Tebing Tinggi, ia dikenal
rajin. Dalam satu hari ia bisa membersihkan 3-5 badan bus yang berdebu.
Seolah tak putus dirundung masalah, di terminal ini uangnya dicuri. Menyadarinya
Kok Lien gelagapan. Setelah dilidiki, ia menemukan pencurinya dan menegurnya.
Tapi si pencuri malah marah dan memukulnya. Orang-orang berdatangan,
tapi tak ada yang melerai. Di saat tersudut, Kok Lien melihat sebilah kapak bergerigi yang biasa digunakan membilah es, tergeletak tak jauh darinya. Secepatnya ia ambil dan menghunjamkannya ke wajah lawannya. Seketika lawannya roboh. Kok Lien lalu ditangkap polisi dan dipenjara selama 4 tahun di LP Tiang Listrik, Medan.

Menginjak usia 17 tahun Kok Lien bebas. Ia gembira dan segera pulang, melepas rindu kepada keluarga. Tapi sayang, sampai di rumah ibunya hanya memberi waktu 2 jam untuk melepas rindu. Ibunya malu kepada tetangga. Dengan berat hati, Kok Lien melangkah pergi.

Di tengah kegalauan, ia ingat pamannya yang ada di Jakarta. Ia ingin menjumpainya dan meminta bantuan mencari pekerjaan. Tapi sayang, ia tidak tahu alamat persisnya. "Saya tak tau alamatnya, tapi saya nekad ke Jakarta," katanya.

Tiba di Jakarta, harapan yang ia pupuk selama perjalanan hancur berantakan.
Kurang lebih 7 bulan ia mencari rumah pamannya. Tapi setelah bertemu, ternyata
pamannya tidak mengakuinya sebagai kemenakan. Malah menistakannya. Begitu
pun adiknya. Ia tercampakkan. Ia kecewa.

Bersambung...
"Pergolakan Jiwa Seorang Mantan Terpidana"
Buah Karya S. Budhi Raharjo


Like us on Facebook